Hal ini bukan tabu bagiku. Aku sering melihat kelamin orang lain di rumahku. Begitu banyak yg kuliat, hingga aku tak bisa membedakan karna bentuknya sama panjang dan tidak panjang. Aku tau milik siapa dari warna dan ukurannya. Mereka fikir aku tak mengerti tentang kelamin, digunakan utk apa selain mengeluarkan air seni.
Memang ada aturan dirumahku, setiap masuk kedalam rumah semua apa yg dikenakan tubuh mesti ditinggal dalam sebuah locker. Pertama-tama aku tak tau arti malu. Karna sejak kecil aku selalu melihat pandangan ruang tamu penuh dengan kelamin. Belakangan ini aku tau kelamin ada dua. Yg panjang dan tidak panjang. Terlalu bodoh memang. Tapi ya sudahlah, karna aku memang lahir tanpa seorang ayah, maksudku aku tak tau ayahku yg mana.
Aku sekolah di dekat rumah, sekolah rakyat yg diberikan oleh pemerintah secara gratis. Karna ibuku sangat banyak dirumah itu. Aku di masukan kedalam sekolah rakyat yg gratis agar uang mereka tak berkurang. Ooo iya, dirumahku. Hanya aku yg boleh menutup kelaminku yg tidak panjang.
Setiap malam tiba, aku hanya duduk diruang berukuran 1×1 tanpa ada televisi. Ruangan itu kulubangi, dan setiap malam pula aku melihat para wanita yg kupanggil ibu tertawa dengan para pemilik kelamin panjang. Dan juga aku melihat kelamin panjang di masukan kedalam kelamin tidak panjang. Mereka tidak tertawa, tapi merintih kesakitan. Dari situ aku tau kelaminku bisa dimasukan.
Awalnya aku tak terlalu perduli dengan semua itu, dan aku fikir. Kehidupan memang seperti itu. Salah memang ketika ibuku menyekolahkanku. Aku dapat berbagai macam informasi dari berbagai buku. Dan aku tau, ternyata rumahku tempat pelacur. Kelamin panjang itu penis dan tak panjang namanya vagina. Berarti punyaku vagina.
*ditulis sore hari utk belajar menulis fiksi*


