“Jangan jatuh cinta dengan saham”, kalimat yg keluar dari mulut seorang swing trader yg saya temui di Starbuck beberapa hari lalu. Sepintas saya mengasumsikan bahwa jangan pernah terjun ke dunia saham jika memang belum pernah “terjun” sama sekali, apa lagi samaduakali.
Dunia saham memang tergolong minoritas, pendapat dari beberapa masyarakat luas. Ataukah karena belum ada edukasi tentang itu ? Informasi yg berkembang di masyarakat memang sangat ekstreem. “Maen uang ratusan juta, bisa hilang dalam beberapa jam” atau “itu sama dengan judi” dua pendapat itu yg paling tenar.
Menyikapi ini, saya mesti pelajari seluk beluknya. Dengan membeli buku mba Ellen May “Smart Trader and Not Gambling”. Dan membaca 3 bab pertama sudah terjawab, investasi stock/saham tidak tergolong judi, hanya asumsi orang saja yg menggolongkan judi. Dan jangan jatuh cinta dengan saham ternyata diartikan jangan jatuh cinta dengan satu saham perusahaan. Jika saham kita naik harga segera cepat jual, dan kita mesti punya batas loss agar tak terlalu rugi banyak.
Mba Ellen May menganjurkan kita untuk punya batas keuntungan 15%, atau punya angka keuntungan sendiri agar melakukan investasi sangat terukur. Dan begitu pula dalam hal kerugian.
Dunia stock/saham bagi saya hampir sama dengan dunia dagang. Dan lebih gayanya adalah kita bisa membeli sebagian saham perusahaan besar seperti Astra. Tidak pernah kebayangkan kita bisa membeli saham Astra di pasar saham dengan harga perlembar Rp. 70ribuan. Dan minimal pembelian 500 lembar atau bahasa stocknya 1 Lot.
Ini dunia menarik bagi saya, entah menjadi investor atau swing trader sama2 hal yg menarik.
Mari menabung


